PT Solid | Satu Insiden di Hormuz, Tiga Pasar Langsung Bereaksi

Harga Emas hari ini – Amerika Serikat menyita kapal kargo berbendera Iran yang disebut mencoba menerobos blokade Selat Hormuz, menurut pernyataan Presiden Donald Trump pada Minggu. Trump mengatakan kapal perusak rudal berpemandu USS Spruance mencegat kapal Touska di Teluk Oman setelah kapal mengabaikan peringatan untuk berhenti, dan Marinir AS kini menahan kapal tersebut

Operasi ini disebut sebagai aksi boarding pertama sejak blokade laut diberlakukan pada 13 April, yang menjadi bagian dari tekanan Washington terhadap Teheran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan hingga Minggu ada 25 kapal yang diputarbalikkan akibat blokade, termasuk Touska, sementara Iran menyebut penyitaan itu sebagai tindakan “pembajakan”.

CENTCOM mengatakan penyitaan dilakukan setelah sekitar enam jam peringatan agar kapal berbalik arah, termasuk instruksi untuk mengosongkan ruang mesin sebelum tembakan “melumpuhkan” diarahkan. Menurut CENTCOM, kapal ditembaki menggunakan meriam 5 inci untuk mematikan mesin tanpa menenggelamkan kapal, lalu Marinir AS naik ke kapal dan mengambil alih kendali.

Ketegangan ini terjadi menjelang rencana pembicaraan di Islamabad, Pakistan, yang menurut Gedung Putih akan dihadiri Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta Jared Kushner. Trump menyatakan AS menawarkan kesepakatan, namun juga mengulang ancaman serangan luas terhadap infrastruktur Iran jika tidak ada hasil, sementara media pemerintah Iran melaporkan Teheran “menolak” putaran kedua perundingan dan menilai blokade sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Situasi di Hormuz kembali tidak stabil setelah Iran sempat menyatakan selat dibuka kembali, lalu menutupnya lagi dengan alasan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Trump menegaskan blokade akan berlanjut sampai ada kesepakatan damai, sementara pejabat AS menyebut kondisi belum aman untuk pelayaran di Hormuz; di sisi lain, laporan pemantau maritim Inggris menyebut ada insiden tembakan dan proyektil yang mengenai kapal di area tersebut, meski kru dilaporkan selamat.

Ketegangan di Selat Hormuz menambah premi risiko di pasar global: minyak cenderung menguat karena kekhawatiran gangguan pasokan, sementara lonjakan energi berpotensi memperbesar kekhawatiran inflasi yang mendorong ekspektasi suku bunga bertahan tinggi, sehingga dolar cenderung menguat dan pada saat yang sama dapat menekan emas meski permintaan aset aman tetap muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

4 inti poin :

– AS menyita kapal Touska di Teluk Oman; Trump menyebut kapal mengabaikan peringatan dan dilumpuhkan, lalu ditahan Marinir AS.

– Ini aksi boarding pertama sejak blokade diberlakukan 13 April; CENTCOM menyebut 25 kapal sudah diputarbalikkan.

– Rencana perundingan Islamabad berjalan di tengah saling bantah; AS menyiapkan delegasi, Iran menyatakan belum ada kepastian ikut serta dan menuding blokade melanggar gencatan senjata.

– Hormuz kembali bergejolak setelah sempat dibuka; ada laporan insiden serangan terhadap kapal, dan AS menegaskan blokade berlanjut sampai ada kesepakatan. – PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

PT Solid Gold | Ultimatum Trump Guncang Pasar, Emas Masih Tertekan

Harga Emas hari ini – Harga emas melemah ke US$4.620/oz pada Selasa (7/4), menghapus kenaikan awal dan memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Penurunan terjadi ketika eskalasi tensi AS-Iran—termasuk ultimatum Presiden Donald Trump kepada Teheran dan laporan ledakan di Iran—tidak cukup kuat mempertahankan permintaan safe haven.

Trump menetapkan tenggat pukul 20.00 ET untuk kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan gencatan senjata, disertai peringatan keras soal konsekuensi jika tuntutan tidak dipenuhi. Iran menegaskan akan melakukan pembalasan “di luar kawasan” jika AS melanggar “garis merah” mereka. Meski geopolitik memanas, emas masih sekitar 12% di bawah level pra-konflik setelah mencatat penurunan bulanan terburuk sejak 2008 pada Maret, ketika krisis justru memperkuat dolar dan meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed—kombinasi yang menekan logam tanpa imbal hasil.

Satu penopang datang dari sisi permintaan resmi: bank sentral China menambah 160.000 troy ounce cadangan emas pada Maret, pembelian terbesar dalam lebih dari setahun, memberi sinyal diversifikasi cadangan masih berjalan meski harga bergejolak. – PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Solid Gold | Pasar Minyak Bergejolak, Fokus ke Ultimatum AS terhadap Iran

Harga Emas hari ini – Harga minyak memperpanjang kenaikan untuk hari ketiga seiring Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran menjelang tenggat waktu pada Selasa malam waktu setempat. Pernyataan Trump memicu kenaikan premi risiko geopolitik, di tengah kekhawatiran potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk.

West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$113 per barel, setelah pada Senin ditutup pada level tertinggi sejak Juni 2022. Sementara itu, Brent berakhir sedikit di bawah US$110 per barel, mencerminkan penguatan sentimen bullish di pasar energi global.

Trump pada Senin mengatakan pembicaraan dengan Iran “berjalan baik,” namun ia juga menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi “prioritas yang sangat besar.” Ia menyampaikan konsekuensi yang akan dihadapi Iran jika kesepakatan tidak tercapai sebelum batas waktu Selasa pukul 8 malam Waktu Timur AS.

Iran memperingatkan akan merespons kemungkinan serangan dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Skenario tersebut dipandang dapat memperparah pengetatan pasokan bahan bakar global dan memperbesar dampak tekanan terhadap perekonomian dunia, terutama ketika konflik disebut sudah memasuki pekan keenam dan memicu guncangan pasokan yang signifikan.

Analis Enverus, Carl Larry, menilai Trump “tidak mundur dari pernyataan-pernyataan sebelumnya,” sehingga pasar melihat risiko eskalasi masih tinggi. Menurutnya, situasi mendekati fase penentuan, tetapi hasil akhirnya berpotensi tidak kondusif bila berujung pada tindakan militer.

Dari sisi pasar fisik, kekhawatiran pasokan jangka pendek juga terlihat pada melebar tajamnya prompt spread WTI, selisih antara dua kontrak terdekat, yang sempat mendekati US$15,50 per barel pada Senin. Pelebaran ini dipicu ekspektasi pasokan AS yang lebih ketat, seiring pembeli luar negeri meningkatkan pembelian minyak mentah Amerika, sementara WTI kontrak Mei naik 1% ke US$113,50 per barel pada perdagangan pagi di Singapura.

Harga minyak naik hari ketiga beruntun dipicu eskalasi tensi AS-Iran menjelang deadline Selasa pukul 8 malam ET.

5 Point Initi :

– WTI tembus di atas US$113/barel (tertinggi sejak Juni 2022), sementara Brent mendekati US$110/barel.

– Trump menyatakan negosiasi “berjalan baik,” tetapi tetap menekankan Selat Hormuz sebagai prioritas besar dan melontarkan ancaman keras jika tidak ada kesepakatan sebelum tenggat.

– Iran memperingatkan akan membalas dengan meningkatkan serangan ke infrastruktur energi di Teluk, yang bisa memperparah krisis pasokan global dan menekan ekonomi dunia.

– Indikasi pasar makin ketat terlihat dari prompt spread WTI yang sempat mendekati US$15,50/barel, mencerminkan kekhawatiran pasokan AS mengetat saat pembeli luar negeri memburu crude Amerika. – Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

PT Solid Gold | EUR/USD Menguat setelah Pernyataan Trump

Harga Emas hari ini – EUR/USD kembali menunjukkan kekuatan pada 1 April 2026, menguat di atas 1,1550, setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan harapan bahwa konflik dengan Iran bisa segera mereda dalam dua hingga tiga minggu. Pernyataan ini menurunkan permintaan terhadap dolar AS, yang sebelumnya menjadi safe haven utama, seiring dengan berkurangnya ketegangan geopolitik. Meskipun Iran menolak gencatan senjata, harapan pasar bahwa eskalasi militer akan berkurang mendorong kenaikan euro terhadap dolar.

Penguatan euro juga dipicu oleh faktor internal di zona euro, di mana sentimen pasar terhadap kebijakan ECB mulai membaik. Data manufaktur zona euro yang menunjukkan angka positif, ditambah dengan komentar beberapa pejabat ECB yang mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, menambah optimisme terhadap euro. EUR/USD bergerak lebih tinggi, diuntungkan dari kedua faktor tersebut.

Namun, meskipun ada optimisme terkait kebijakan ECB dan meredanya ketegangan global, pasar tetap memperhatikan kebijakan moneter Federal Reserve dan keputusan selanjutnya dari Iran yang bisa kembali mempengaruhi dolar.

Penyebab Kenaikan EUR/USD:

Komentar dari Presiden Trump yang menyatakan kemungkinan akhir perang dalam dua hingga tiga minggu mengurangi kekhawatiran pasar dan menurunkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman. Hal ini memberikan ruang bagi euro untuk menguat.

Kebijakan ECB dan Optimisme Zona Euro:

Sinyal hawkish dari ECB, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menanggapi inflasi, memperkuat prospek euro. Data manufaktur yang positif menambah optimisme pasar terhadap ekonomi zona euro, mendorong kenaikan EUR/USD.

Hal yang Perlu Diperhatikan:

Ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor utama yang bisa mempengaruhi EUR/USD. Jika ketegangan kembali meningkat atau terjadi eskalasi, permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven bisa kembali menguat, menekan euro.

Kebijakan Suku Bunga Federal Reserve vs ECB:

Perbedaan kebijakan moneter antara Fed dan ECB menjadi kunci dalam pergerakan EUR/USD. Jika Fed mempertahankan suku bunga lebih tinggi sementara ECB melanjutkan kebijakan kenaikan bertahap, euro bisa terus menguat terhadap dolar. Namun, perubahan kebijakan di salah satu bank sentral dapat menyebabkan volatilitas besar. – PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Solid Gold | Sinyal De-Eskalasi dari Trump, Minyak Tidak Terjun Payung?

Harga Emas hari ini – Harga minyak berfluktuasi setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk mengakhiri kampanye militer di Iran, meskipun Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak vital, tetap sebagian besar tertutup. Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun menjadi sekitar $103 per barel setelah sebelumnya melonjak hampir 4% menyusul serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker di Teluk Persia. Brent menawarkan sekitar $113.

Menurut laporan tersebut, Trump dan para ajudannya menilai bahwa misi untuk membuka kembali Selat Hormuz akan memperpanjang durasi perang melebihi batas waktu yang ditetapkan Trump, yakni empat hingga enam minggu. Pernyataan ini membuat pasar minyak bergejolak, meskipun ada indikasi bahwa ketegangan di wilayah tersebut mungkin akan segera mereda jika kesepakatan tercapai.

Presiden AS sering berubah-ubah antara mengatakan bahwa akhir perang sudah dekat atau diperingatkan bahwa ia siap meningkatkan operasi militer. Pada hari Senin, Trump mengungkapkan bahwa AS akan menghancurkan pembangkit listrik, fasilitas minyak, dan kemungkinan infrastruktur desalinasi jika Iran tidak segera membuka Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial. Perang ini telah secara efektif menutup Selat Hormuz, yang menghambat pasokan minyak mentah, gas alam, dan produk-produk seperti diesel ke pasar global, yang mendorong meroketnya harga energi dan menambah kekhawatiran krisis inflasi.

Serangan terbaru terhadap kapal tanker minyak Kuwait, Al-Salmi, yang menyebabkan kebakaran dan kerusakan pada lambung kapal di Pelabuhan Dubai, semakin meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. Iran telah secara teratur menargetkan kapal-kapal di Teluk sejak perang dimulai, dengan serangan sebelumnya terhadap dua kapal di dekat Irak.

Meskipun harga minyak mengalami penurunan pada hari Selasa, harga WTI untuk pengiriman Mei masih mencatat kenaikan lebih dari 50% pada bulan Maret, tercatat terbesar sejak Mei 2020. Begitu juga dengan Brent, yang berada di jalur untuk mencatat kenaikan besar pada bulan ini. Pasar masih khawatir terhadap penambahan pasukan AS di kawasan tersebut dan kemungkinan penempatan pasukan darat di Iran, yang dapat semakin memperburuk situasi.

Menurut Shaia Hosseinzadeh, Chief Investment Officer di OnyxPoint Global Management, “Harga minyak saat ini terlalu tinggi untuk stabilitas dan terlalu rendah untuk mencerminkan skala gangguan fisik di pasar.” Hosseinzadeh juga menambahkan bahwa Trump tampaknya memutuskan bahwa AS harus mencapai tujuan utama mereka, yaitu mematikan angkatan laut dan persediaan rudal Iran, sambil mengakhiri permusuhan saat ini. Laporan tersebut mencatat bahwa Washington akan menekan Teheran melalui diplomasi untuk melanjutkan aliran bebas melalui Selat Hormuz.

Melihat ke depan, para trader dan investor harus memperhatikan perkembangan lebih lanjut terkait keputusan AS dalam mengakhiri operasi militer, serta respon Iran yang masih menunjukkan keraguan untuk terlibat dalam negosiasi langsung. Selain itu, beredarnya harga energi dan ketegangan di Timur Tengah akan terus memberikan dampak besar terhadap harga minyak global, sementara ketegangan geopolitik yang terus berlanjut berpotensi menambah volatilitas di pasar energi. – Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Solid Gold | Emas Naik Tipis, Dolar dan Yield Melemah Namun Inflasi Energi Batasi Reli

Harga Emas hari ini – Emas (XAU/USD) menguat tipis pada Senin (16/3) setelah berbalik dari pelemahan intraday, terbantu meredanya dolar AS dan imbal hasil Treasury usai reli sebelumnya. XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$5.030 setelah sempat turun ke US$4.967, level terendah lebih dari tiga pekan.

Namun, kekhawatiran inflasi yang didorong lonjakan minyak akibat perang AS-Iran menahan ruang kenaikan emas, karena pasar menilai bank sentral berisiko mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi fokus ketika konflik memasuki pekan ketiga, dengan Brent naik sekitar 33% dan WTI sekitar 37% dari level pra-konflik, menjaga risiko stagflasi tetap hidup.

Di sisi geopolitik, AS melancarkan serangan udara ke Pulau Kharg yang menargetkan situs militer, sementara Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan ke infrastruktur minyak Iran jika Teheran mengganggu pelayaran. Iran menyebut Hormuz akan ditutup hanya untuk “musuh” dan pihak yang mendukung agresi, memperpanjang ketidakpastian jalur pasokan energi global.

Ekspektasi pemangkasan The Fed ikut menyusut. Probabilitas pemangkasan 25 bps pada Juni turun ke 23,6% dari 51,2% sebulan lalu (CME FedWatch), dan pasar kini cenderung mem-price in hanya satu pemangkasan hingga akhir tahun. Ini menjadi hambatan bagi emas karena suku bunga yang bertahan tinggi meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil.

Fokus pekan ini tertuju pada keputusan The Fed Rabu, yang diperkirakan menahan suku bunga di 3,50%-3,75%, serta panduan Jerome Powell, SEP, dan dot plot untuk membaca respons kebijakan terhadap guncangan energi. Keputusan bank sentral besar lain—BoE, ECB, BoJ, BoC, dan RBA—juga akan memengaruhi arah dolar, yield, dan selera risiko yang menjadi penentu pergerakan emas. (Arl)

Sumber: Newsmaker.id

PT Solid | Tarik-Menarik Safe Haven dan Inflasi Energi Warnai Pergerakan Emas dan Minyak

Harga Emas hari ini – Sepanjang periode 9–13 Maret 2026, pergerakan harga emas dan minyak menunjukkan volatilitas yang tinggi, dipengaruhi terutama oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz. Pada awal pekan, harga minyak melonjak tajam setelah pasar menilai terganggunya jalur strategis tersebut sebagai ancaman serius bagi pasokan global. Kenaikan harga energi kemudian mendorong peningkatan premi risiko, memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global, dan memicu penilaian ulang terhadap prospek kebijakan moneter, khususnya kemungkinan suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Di sisi lain, harga emas sempat memperoleh dukungan pada awal hingga pertengahan pekan, terutama ketika pelemahan dolar AS meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut bagi investor non-USD, sementara permintaan aset safe haven juga menguat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Namun, penguatan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki paruh kedua pekan, dolar AS kembali terapresiasi, sedangkan harga minyak yang tetap tinggi memperkuat kekhawatiran inflasi dan semakin membatasi ruang pelonggaran kebijakan suku bunga. Kondisi ini menekan harga emas, yang pada akhirnya bergerak turun dan menutup pekan dalam jalur pelemahan mingguan kedua.

Sementara itu, meskipun harga minyak sempat mengalami koreksi pada Selasa akibat munculnya harapan meredanya konflik, pelemahan tersebut bersifat sementara dan lebih mencerminkan perubahan sentimen jangka pendek daripada perbaikan fundamental. Dalam praktiknya, lalu lintas tanker masih terganggu, biaya asuransi serta pengiriman tetap tinggi, dan ancaman terhadap infrastruktur energi terus membayangi pasar. Berbagai langkah stabilisasi, termasuk pelepasan cadangan darurat, dinilai belum memadai untuk sepenuhnya menggantikan potensi kehilangan pasokan fisik dari kawasan Teluk.

Secara keseluruhan, penutupan perdagangan pada akhir pekan menegaskan bahwa minyak tetap didukung oleh bias bullish akibat belum pulihnya kondisi pasokan dan tingginya premi risiko geopolitik. Adapun emas bergerak dalam tekanan yang lebih kompleks, yakni di satu sisi memperoleh dukungan dari perannya sebagai aset lindung nilai, tetapi di sisi lain tertekan oleh penguatan dolar AS, tingginya harga energi, dan ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan pada level ketat lebih lama. Dengan demikian, dinamika pasar selama sepekan tersebut mencerminkan dominasi faktor geopolitik dan inflasi energi dalam membentuk arah pergerakan kedua komoditas utama tersebut.

Prediksi pekan ini.

Untuk 1 pekan ke depan, gold di area 5.000  sebagai pivot utama. Dari chart, selama harga masih tertahan di bawah 5.030–5.050, arahnya cenderung sideways ke bearish dengan support dekat di 4.967, lalu 4.900. Sebaliknya, kalau bisa close harian di atas 5.120, peluang rebound terbuka ke 5.180–5.220.

Dari sisi fundamental, pasar minggu ini sangat fokus ke rapat FOMC 17–18 Maret. The Fed memang dijadwalkan rapat pada tanggal itu, sementara pasar global juga masih dibayangi harga minyak yang tetap tinggi akibat konflik di kawasan Teluk. Pada 16 Maret melaporkan Brent berada di sekitar US$103 dan WTI sekitar US$98, sehingga risiko inflasi energi masih membebani prospek pemangkasan suku bunga.

Jadi skenarionya simpel: selama gold di bawah 5.050, tekanan turun masih dominan karena dolar kuat dan pasar cenderung hati-hati menjelang The Fed; target bawahnya 4.967–4.900. Tetapi bila The Fed terdengar lebih lunak dari perkiraan atau tensi energi mereda, gold bisa rebound dan mencoba kembali ke 5.120. Tekanan jangka pendek ini juga sejalan dengan laporan Reuters bahwa emas baru saja mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut, tertekan oleh dolar yang lebih kuat dan kekhawatiran inflasi dari lonjakan minyak.

Untuk BCO, skenario 1 pekan ke depan masih bullish tapi sangat volatil. Dari chart harian, tren naiknya masih kuat dan area 104 sekarang jadi level penentu. Selama harga masih bertahan di atas 100–101, momentum naik masih aman. Resistance terdekat ada di 106–108, lalu 110–113. Kalau tembus 113, ruang naik bisa makin terbuka. Tapi kalau gagal bertahan di atas 100, potensi koreksi turun ke 97–95, lalu 92–90 jadi lebih besar.

Dari sisi fundamental, minyak masih ditopang risiko pasokan.Sementara konflik di sekitar Teluk masih mengganggu pasar energi. Beberapa media juga menulis bahwa sekitar 20% aliran minyak dan LNG global terkait dengan Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur itu tetap menjaga premi risiko tetap tinggi. Di sisi lain, kenaikan minyak juga mulai ditahan oleh rencana pelepasan lebih dari 400 juta barel stok darurat IEA dan upaya koalisi untuk membantu mengamankan pelayaran di Hormuz.

Jadi, base case : selama BCO bertahan di atas 100, bias masih bullish dengan target 106–108 lalu 110–113. Skenario koreksi baru lebih kuat kalau muncul tanda de-eskalasi geopolitik atau harga close harian di bawah 100. Kalau itu terjadi, pasar bisa masuk fase ambil untung lebih dalam ke 97–95.

DISCLAIMER

Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi. – PT Solid

Sumber : Newsmaker.id

Solid Gold Berjangka | Emas Nyaris Tak Berubah Ditengah Memudarnya Peluang Cut Rate

Harga Emas hari ini – Harga emas cenderung stabil setelah rilis data inflasi bulanan AS meredupkan prospek Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga, di tengah perang di Timur Tengah yang terus berlarut.

Bullion berada di sekitar US$5.175 per ons pada perdagangan awal, setelah turun 0,3% pada sesi sebelumnya. Meski inflasi inti AS relatif jinak di awal tahun sebelum konflik dimulai, kekhawatiran inflasi ke depan mengurangi kemungkinan The Fed memangkas biaya pinjaman. Uni Eropa, sementara itu, memperingatkan inflasinya bisa melampaui 3% tahun ini.

Memasuki hari ke-13, perang AS–Israel dengan Iran masih mengganggu produksi minyak dan aktivitas pengilangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah naik untuk hari kedua karena kekhawatiran konflik berkepanjangan mengalahkan dampak pelepasan cadangan darurat terbesar yang pernah dilakukan negara-negara kaya.

Selain menghadapi prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi—yang biasanya menjadi hambatan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil—emas juga kerap menjadi sumber likuiditas ketika investor perlu menutup kerugian atau memperkuat bagian lain dari portofolionya. Meski begitu, emas masih naik sekitar seperlima sepanjang tahun ini, didukung perannya sebagai aset lindung nilai saat gejolak geopolitik.

Spot emas hampir tidak berubah di US$5.176,20 per ons pada pukul 06:14 waktu Singapura. Perak turun 0,1% ke US$85,63, sementara platinum dan palladium melemah. Bloomberg Dollar Spot Index ditutup naik 0,2% pada sesi sebelumnya. – Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Solid Gold | Emas Stabil, Pasar Cerna Pernyataan soal Perang Timur Tengah

Harga Emas hari ini – Harga emas bergerak terbatas ketika pelaku pasar mencerna pernyataan yang saling bertentangan dari pejabat AS terkait perang di Timur Tengah, yang ikut memperbesar volatilitas di pasar energi. Bullion bertahan di sekitar US$5.200 per ons, setelah naik 1% pada sesi sebelumnya. Gedung Putih menyatakan AS belum mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, membantah unggahan Menteri Energi Chris Wright yang kemudian dihapus. Di saat yang sama, harga minyak memantul setelah jatuh tajam pada Selasa, sementara indeks dolar AS melemah sekitar 0,1%.

Memasuki hari ke-12, perang masih mengganggu produksi minyak mentah dan aktivitas pengilangan di kawasan Timur Tengah. Pentagon mengatakan AS dan Israel menjalankan hari serangan paling intens sejauh ini terhadap Iran dan tidak akan berhenti sampai Iran “dikalahkan,” menandai nada yang lebih agresif dibanding sinyal Presiden Donald Trump sebelumnya bahwa konflik bisa segera berakhir.

Bagi emas, kenaikan harga energi memperkuat kekhawatiran inflasi dan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve maupun bank sentral lainnya. Biaya pinjaman yang lebih tinggi umumnya menjadi hambatan bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Emas—yang telah naik sekitar seperlima tahun ini—juga menjadi sumber likuiditas bagi investor untuk memperkuat posisi portofolio di aset lain.

Pada pukul 06.19 waktu Singapura, spot gold naik tipis 0,1% ke US$5.197,28 per ons. Perak naik 0,7% ke US$88,90, sementara platinum dan palladium juga bergerak menguat. – Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

PT Solid | Data Kerja AS Mengecewakan, Emas Rebound, Dolar Tertahan

Harga Emas hari ini – Harga emas menguat pada Jumat (6/3) setelah data payrolls AS yang lebih lemah dari perkiraan menjaga harapan pemangkasan suku bunga Federal Reserve. Namun, emas masih berada di jalur mencatat penurunan mingguan pertamanya dalam lima pekan, karena penguatan dolar membatasi ruang kenaikan.

Emas spot naik 1,5% ke $5.158,74 per ons, tetapi secara akumulatif masih turun sekitar 2,2% sepanjang pekan ini. Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup naik 1,6% di $5.158,70.

Tai Wong, trader logam independen, menilai laporan payrolls yang “mengkhawatirkan”—dengan kehilangan pekerjaan besar di sektor swasta disertai upah yang lebih tinggi—mengarah ke sinyal stagflasi. Ia menambahkan, pasar kini menunggu apakah data ini cukup untuk membantu emas pulih setelah pekan yang mengecewakan.

Data menunjukkan nonfarm payrolls turun 92.000 pekerjaan bulan lalu, berbanding terbalik dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan sekitar 59.000. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4%.

Dari sisi geopolitik, Israel melancarkan serangan ke Beirut setelah memerintahkan evakuasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seluruh wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon—menandai perluasan besar perang melawan Iran yang dimulai sepekan lalu bersama Amerika Serikat. – PT Solid

Sumber : Newsmaker.id